Surakarta, 25 Mei 2025 – Di tengah arus informasi yang deras dan sering kali melayang, Senkom Mitra Polri Kota Surakarta mengambil langkah progresif dengan menyelenggarakan Diklat Jurnalistik dan Media Massa yang menggandeng generasi muda. Berlangsung selama dua hari di Sekretariat Senkom Surakarta, pelatihan ini bertujuan membekali para peserta dengan keterampilan dasar jurnalistik dan kemampuan menyaring informasi digital secara kritis.
Diklat ini bukan hanya soal belajar menulis berita atau teknik wawancara. Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi wahana strategi dalam memperkuat literasi media sebagai tameng dari gempuran disinformasi dan hoaks yang marak di era digital.
Menjawab Tantangan Era Digital
Wakil Ketua Senkom Kota Surakarta, Sriwiyono , dalam Segalanya menegaskan mendesaknya peran pemuda sebagai agen literasi media. “Pemuda adalah ujung tombak dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Mereka harus mampu menyaring, memilah, dan menyebarkan informasi yang akurat serta membangun,” ujarnya.
Senada dengan itu, H. Abdurrahman Anjani Putra , Wakil Ketua Senkom Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk masyarakat yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab secara digital.
Praktik Langsung dan Pendekatan Interaktif
Materi pelatihan disusun secara sistematis, meliputi dasar-dasar jurnalistik, literasi media, teknik verifikasi informasi, hingga praktik menulis dan produksi berita. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, anggota Senkom muda, serta pegiat komunitas literasi lokal.
Pelatihan dikemas interaktif, dengan diskusi kelompok, simulasi wawancara, serta sesi pengecekan fakta untuk memperkuat keterampilan teknis peserta.
Hoaks Adalah Musuh Bersama
Di era digital, setiap orang bisa menjadi produsen informasi. Sayangnya, kemudahan ini juga membuka ruang luas bagi penyebaran informasi palsu. Oleh karena itu, menurut Dian Sujawi , Pembina Senkom Surakarta, pelatihan ini menjadi krusial.
“Hoaks merusak kepercayaan publik, menyebarkan opini, bahkan memecah belah masyarakat. Maka, generasi muda harus menjadi benteng pertama melawannya,” tegasnya.
Dukungan Komunitas dan Institusi
Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat hingga aparat keamanan, menjadi kekuatan tersendiri dalam menyukseskan pelatihan ini. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemberantasan hoaks bukan sekadar tugas jurnalis profesional, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Membentuk Jurnalis Muda yang Bertanggung Jawab
Salah satu peserta, Dina (17), pelajar SMA asal Banjarsari, mengaku bahwa pelatihan ini membuka wawasan tentang pentingnya menyebarkan informasi yang benar. “Dulu saya hanya asal share berita di grup WhatsApp keluarga. Sekarang saya sadar, kita harus cek dulu sumbernya,” ujarnya.
Pelatihan ditutup dengan penyampaian sertifikat dan rencana tindak lanjut berupa pembentukan lanjut komunitas literasi digital di lingkungan masing-masing peserta. Harapannya, semangat yang ditanamkan selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus menyebar dan tumbuh di tengah masyarakat.
(WINDA NUR ‘AISYAH)
Senkom News Menembus Jarak Tanpa Batas