
SENKOMNEWS | KLATEN – Puluhan relawan dari berbagai unsur turun langsung membantu penanganan banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Dengkeng di Dukuh Padon, Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 4 Maret 2026 sekitar pukul 00.04 WIB tersebut dipicu hujan deras dengan durasi panjang yang menyebabkan debit air sungai meningkat hingga meluap.
Tim gabungan yang terlibat dalam penanganan darurat antara lain dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Klaten, TNI, Polri, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Senkom Mitra Polri melalui unit SAR Klaten, Palang Merah Indonesia, Taruna Siaga Bencana, komunitas relawan, perangkat desa, serta masyarakat setempat.
Sawah dan Permukiman Terdampak
Luapan air akibat tanggul yang jebol menyebabkan sekitar 37 hektare lahan persawahan terendam. Selain itu, genangan air juga memasuki kawasan permukiman warga di beberapa titik.
Di wilayah RT 12–13 RW 06 Dukuh Guntur, tercatat 14 kepala keluarga dengan total 45 jiwa terdampak banjir. Sementara itu, di RT 14–15 RW 07 Dukuh Turasan, genangan air sempat bertahan hingga dua hari sebelum mulai surut.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian materi cukup terasa bagi warga. Sekitar 10 hektare tanaman padi yang siap panen terendam selama dua hari, sehingga diperkirakan mengalami penurunan hasil panen. Selain itu, talud jalan sepanjang sekitar 10 meter juga dilaporkan ambrol akibat tergerus arus air.

Hujan Deras Picu Luapan Sungai
Menurut laporan lapangan, hujan deras mengguyur wilayah hulu hingga hilir aliran Sungai Dengkeng selama kurang lebih enam jam. Kondisi tersebut menyebabkan debit air meningkat drastis hingga melampaui kapasitas sungai, yang akhirnya memicu jebolnya tanggul di wilayah Desa Japanan.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Senkom SAR Kabupaten Klaten, Sucipto, menjelaskan bahwa tim relawan langsung bergerak membantu penanganan darurat bersama instansi terkait dan masyarakat.
Perbaikan Darurat Dilakukan Gotong Royong
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klaten, Syahruna, menyampaikan bahwa upaya perbaikan tanggul dilakukan secara gotong royong sejak Kamis hingga Jumat (5–6 Maret 2026).
Perbaikan dilakukan dengan metode darurat menggunakan bronjong kawat yang diisi tanah dan batu, kemudian diperkuat dengan bambu serta material penahan lainnya. Dalam proses tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo turut mengerahkan alat berat dan tenaga teknis untuk mempercepat proses penanganan.
“Semua unsur turun tangan membantu, mulai dari instansi pemerintah, relawan hingga masyarakat. Ini menjadi bentuk nyata semangat gotong royong dalam menghadapi bencana,” ujar Syahruna.
Material Perbaikan Masih Dibutuhkan
Meski penanganan darurat telah berjalan, sejumlah kebutuhan material masih diperlukan untuk memperkuat tanggul yang rusak. Di antaranya tanah urug, karung pasir (sandbag), kawat bronjong, batu kali, serta bambu atau kayu pancang.
Medan yang cukup sulit menjadi salah satu kendala di lapangan. Material perbaikan harus diangkut menggunakan armada dan sebagian dilangsir secara manual oleh para relawan dan warga.
Petugas juga mengingatkan bahwa potensi ancaman masih ada apabila tanggul tidak segera diperkuat secara permanen. Jika hujan deras kembali terjadi dalam durasi panjang, air sungai berisiko meluap dan kembali menggenangi area persawahan maupun permukiman warga.
Hingga saat ini, status penanganan masih berlangsung, dengan tim gabungan terus melakukan upaya perbaikan serta pemantauan kondisi tanggul untuk mencegah dampak banjir yang lebih luas. (Ghoni)
Senkom News Menembus Jarak Tanpa Batas