
BERITA SENKOM | KARANGANYAR – Komitmen memperkuat kesiapsiagaan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali ditegaskan melalui Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Karanganyar Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Landing, Kecamatan Ngargoyoso, Senin (3/8/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, TNI, Polri, Perhutani, BPBD, Damkar, Tahura, Satpol PP, Polhut, relawan kebencanaan hingga organisasi kemasyarakatan dalam satu barisan untuk membangun sinergi menghadapi puncak musim kemarau.
Dalam kegiatan tersebut, dua personel Senkom Mitra Polri Kabupaten Karanganyar turut mengambil bagian sebagai representasi organisasi yang selama ini aktif mendukung penanggulangan bencana, keamanan dan perdamaian masyarakat, serta bela negara. Kehadiran Senkom menjadi bagian dari kolaborasi multipihak yang terus diperkuat untuk mengantisipasi meningkatnya potensi kebakaran di kawasan lereng Gunung Lawu.
Apel siaga dipimpin jajaran Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan dihadiri Bupati Karanganyar Rober Christanto, Wakil Bupati, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), BPBD Kabupaten Karanganyar, Polres Karanganyar, Kodim 0727/Karanganyar, Perhutani, Tahura, Forkopimda, hingga relawan peduli lingkungan.
Usai apel, seluruh peserta mengikuti simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. Simulasi tersebut dirancang untuk menguji kecepatan respon, memperkuat koordinasi lintas instansi, sekaligus menyamakan prosedur penanganan apabila terjadi kebakaran di kawasan hutan yang memiliki medan berat seperti lereng Gunung Lawu.

Dalam sambutannya, Bupati Rober Christanto mengingatkan bahwa berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Agustus hingga September 2026 menjadi periode puncak musim kemarau. Kondisi cuaca kering, angin yang cukup kencang, serta fenomena lain diperkirakan meningkatkan risiko munculnya kebakaran hutan maupun lahan.
” Seluruh elemen harus meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan menjadi langkah paling efektif dibandingkan melakukan pemadaman setelah api membesar,” tegasnya.
Karanganyar sendiri memiliki kawasan hutan seluas 7.336,96 hektar, dengan sekitar 98 persen merupakan kawasan hutan lindung dan 2 persen hutan produksi. seluas 5.061,96 hektare dikelola Perhutani, sedangkan 2.274,97 hektare berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Wilayah Ngargoyoso, Tawangmangu, Jenawi, dan Karangpandan menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tinggi karena berada di kawasan penyangga Gunung Lawu sekaligus destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi masyarakat.
Menanggapi pertanyaan awak media, Bupati Rober juga mengungkapkan rencana pembangunan embung di kawasan lereng Gunung Lawu sebagai solusi jangka panjang mengatasi keterbatasan sumber air ketika terjadi kebakaran.
” Ini informasi terbaru, tentu akan kami tindak lanjuti dengan mengajukan usulan ke Kementerian Kehutanan. Embung ini salah satu langkah antisipasi kebakaran. Apa pun yang diperlukan untuk mencegah kebakaran akan kami siapkan,” ujarnya.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Administratur KPH Perhutani Surakarta Agus Supriyanto. Menurutnya, pembangunan embung di kawasan hutan dimungkinkan sesuai ketentuan yang berlaku apabila diusulkan oleh pemerintah daerah.
Sementara itu, Perhutani tetap mengedepankan peningkatan koordinasi lintas sektor serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, serta membiarkan api di sekelilingnya tanpa pengawasan.
Ketua Senkom Mitra Polri Kabupaten Karanganyar, H. Joko Sutrisno, SH, MM, menyampaikan bahwa keikutsertaan dua personel Senkom dalam apel siaga merupakan bentuk kesiapan organisasi mendukung pemerintah dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan.
” Senkom Mitra Polri siap bersinergi dengan BPBD, TNI, Polri, Perhutani dan seluruh pihak. Pencegahan kebakaran hutan memerlukan kolaborasi semua pihak. Kami akan terus mendukung melalui personel kesiapsiagaan, komunikasi lapangan, serta edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Menurut Joko Sutrisno, pencegahan merupakan kunci utama dalam mengurangi risiko Karhutla. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya dibandingkan kesiapan personel dan peralatan.
Apel Siaga Karhutla 2026 bukan sekedar agenda seremonial, melainkan momentum memperkuat komitmen bersama menghadapi ancaman bencana yang setiap tahun berpotensi muncul selama musim kemarau. Sinergi pemerintah, aparat keamanan, relawan, termasuk Senkom Mitra Polri, diharapkan mampu menjaga kelestarian kawasan hutan Gunung Lawu sekaligus melindungi keselamatan masyarakat dan ekosistem ekosistem.
Melalui kesiapsiagaan, koordinasi yang solid, serta partisipasi aktif masyarakat, Kabupaten Karanganyar menegaskan bahwa perlindungan hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan amanah bersama demi menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.(Ghoni)
Senkom News Menembus Jarak Tanpa Batas